Showing posts with label Geografi. Show all posts
Showing posts with label Geografi. Show all posts

Friday, 17 May 2013

Morfologi Tanah

Morfologi pertama kali dikemukakan oleh Goethe dalam taun 1817. Pada awalnya istilah ini hanya dipergunakan dalam ilmu hayat seperti botany dan zoology, tetapi kemudian hampir semua ilmu pengetahuan alam mempergunakannya. Orang pertama yang menggunakan cara morfologi dalam mempelajari tanah menurut Zakharov (1927) adalah Ruprecht (Joffe, 1950). Morfologi bukan suatu ilmu melainkan sarana sesuatu ilmu, merupakan cara yang digunakan dalam penyelidikan-penyelidikan ilmiah. Tujuan morfologi tanah adalah suatu uraian pelukisan, sehingga yang dimaksud morfologi tanah adalah suatu uraian tanah mengenai kenampakan, ciri-ciri dan sifat-sifat tanah yang adapat diamati dan dipelajari di lapang.

Profil Tanah
Profil tanah adalah urutan susunan horison yang tampak dalam anatomi tubuh tanah. Profil tanah terdiri dari lapisan tanah (solum) dan lapisan bahan induk. Solum tanah adalah bagaian dari profil tanah yang terbentuk ekibat proses pembentukan tanah (horison A dan B). Profil tanah tebalnya berlainan mulai dari yang setipis selaput sampai setebal 10 meter. Pada umumnya tanah makin tipis mendekati kutub dan makin tebal mendekati khatulistiwa. Uraian profil tanah dimulai dengan menentukan batas horison (lapisan), mengukur dalamnya dan mengamati profil tanah secara keseluruhan.
Horison adalah lapisan dalam tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah dan terbentuk karena proses pembentukan tanah. Disamping masing-masing horison diamati sifat-sifatnya meliputi : warna, tekstur, konsistensi, struktur, kutan, konkresi dan nodul, pori-pori tanah, pH lapang, batas-batas horison.
Pedon adalah volume trkecil yang adapat disebut tanah. Pedon mempunyai ukuran tiga dimensi. Batas bawahnya merupakan batas antara tanah dengan bukan tanah sedang batas lateralnya (panjang dan lebarnya) cukup luas untuk mempelajari sifay-sifat horison tanah yang ada. Luasnya berkisar antara 1-10 m2 tergantung dari keragaman horison.
Polipedon adalah kumpulan lebih dari satu pedon yang sama atau hampir sama yaitu yang semuanya mempunyai sifat yang memenuhi syarat untuk dikelompokkan sebagai satu sewri tanah. Luas polipedon minimun 2 m2, sedangkan luas maksimum tidak terbatas.
Hubungan antara profil tanah, solum, pedon dan poli pedon ditunjukan pada Gambar 1.

Ciri-ciri Morfologi Tanah.
Profil tanah yang akan diamati ciri-cirinya harus memenuhi syarat-syarat : (1) tegak, (2) baru, artinya belum terpengaruh keadaan luar, dan (3) jangan memantulkan cahaya (profil tanah waktu pengamatan tidak langsung kena sinar matahari).
Pengamatan di lapang biasanya dimulai dengan membedakan lapisan-lapisan tanah atau horison-horison. Horison tanah adalah lapisan dalam tanah lebih kurang sejajar dengan permukaan tanah dan terbentuk karena proses pembentukan tanah. Masing-masing horison diamati ciri-cirinya antara lain : warna, tektur, strukutr, konsistensi, pH tanah, kutan, konkresi dan nodul, pori-pori, dan batas-batas horison.
Parameter batas-batas horison yang diamati meliputi :
a. Ketajaman batas-batas ke horison lain :
a-nyata (abrupt), jika tebal batas kurang dari 2,5 cm.
c-jelas (clear), jika tebal batas 2,5-6,0 cm.
g-berangsur (gradual), jika tebal batas 6-15 cm.
d-(diffuse), jika tebal baats lebih dari 15 cm.

b. Bentuk topografi dari batas horison :
s-rata (smooth).
w-berombak (wavy).
i-tidak teratur (irregular).
b-terputus (broken).

Warna Tanah
Warna tanah merupakan ciri morfologi tanah yang paling mudah dibedakan. Meskipun pengaruhnya yang langsung terhadap fungsi tanah hanya sedikit, tetapi seseorang dapat memperoleh keterangan banyak dari warna tanah, apalagi jika disertai dan dihubungan dengan ciri-ciri lain. Jika warna tanah hampir merupakan ukuran yang tak langsung mengenai sifat dan mutu tanah, serta bersifat menggantikan ciri-ciri penting lain yang sukar diamati teliti.
Warna tanah merupakan pernyataan : (a) jenis dan kadar bahan organik, (b) keadaan drainase dan aerasi tanah dalam hubungan dengan hidrasi, oxidasi dan proses pelindian, (c) tingkat perkembangan tanah, (d) kadar air tanah termasuk pula dalamnya permukaan air taah, dan atau (e) adanya bahan-bahan tertentu.
Pada umumnya bahan organik memberikan warna kelam pada tanah, artinya jika tanah asalnya berwarna kuning atau coklat muda, kandungan bahan organik menyebabkan warnanya lebih cenderung ke arah coklat-kelam. Makin stabil bahan organik makin tua warnanya, sedang makin segar makin cearh warna tanah. Dan humus yang berwarna hitam.
Pada umumnya warna pada tanah mempunyai hubungan dengan oksid-besi yang tak terhidratasi. Karena oksi-besi yang terhidratasi relatif tidak stabil dalam keadaan lembab, maka warna merah biasanya menunjukkan drainase dan aerasi yang baik. Tanah berwarna merah sekali biasanya terdapat dipermukaan tanah yang cembung (convex) terletak di atas batuan permeabel, tetapi meskipun demikian ada pula tanah-tanah merah yang warnanya berasal dari bahan induknya.
Hampir tiap profil tanah terdiri atas horison-horison yang berlainan warnanya. Warna tiap horison harus diamati. Satu horison mungkin berwarna seragam, tetapi mungkin pula tercampur warna lain berupa warna reduksi yang mempunyai warna lebih kearah biru, atau dalam bentuk bintik, becak (mottling) berwarna merah, coklat, kuning atau hitam. Becak ini merupakan skumulasi senyawa-senyawa besi, Al atau Mn yang makin besar akumulasinya makin jelas terkumpul membentuk konkresi. Mengenai becak-becak ini selain warnanya perlu pula diamati jelas, jumlah dan besarnya.
Jelas tidaknya becak-bacak dibedakan atas :
-k- kabur (faint) : perbedaan warna dasar (matrix) dan becak (mottling) tidak jelas;
-j- jelas (distinc) : tampak jelas perbedaan dasar dan becak;
-t- tegas (prominent) : becak merupakan ciri yang tegas.
Jumlahnya (abundance) dibedakan atas :
-s- sedikit (few) : kurang dari 2 % luas permukaan horison profil yang diamati;
-c- cukup (common) : antara 2 % - 20 %.
-b- Banyak (many) : lebih dari 20 % luas permukaan horison profil;
Besarnya (size) becak-becak dibedakan atas :
-h- halus (fine) : diameter becak-becak kurang dari 5 mm;
-s- sedang (medium) : diameternya antara 5-15 mm; dan
-k- kasar (coarse) : diameternya lebih dari 15 mm.

Warna reduksi dan warna becak-becak menunjukkan drainase terhambat (buruk). Warna penentuan warna tanah diperlukan suatu patokan warna sebagai pembanding. Yang banyak digunakan adalah Munsell Soil Color Chart yang meliputi kira-kira 1/5-nya seluruh warna yang ada.
Penentuan warna tanah digunakan Munsell Soil Color Chart yang terdiri dari 9 kartu dengan hue antara kuning (yellow) dan merah (red) berturut-turut mulai dari 5 Y, 2,5 Y, 10 YR, 7,5 YR, 5 YR, 2,5 YR, 10 %, 7,5 R dan 5 R. Masing-masing kartu disusun dengan interval value mulai dari 1 samapi dengan 8, dan dengan interval chroma mulai dari 2 samapai 8 atau mulai 0 samapai 8 tanpa angka 5. Makin tinggi value makin cerah warnanya, sedangkan makin besar angka chroma makin besar intensitasnya.
Cara menentukan warna tanah adalah dengan membandingkan warna tanah dengan warna pembanding dealam kartu Munsell Soil Color Chart, dengan mendekatkan contoh tanah atau memasukkan contoh tanah ke dalam lubang yang telah tersedia di dekat masing-masing kertas warna pembanding. Penulisan warna ditulis menurut urutan hue, value, chroma, misalnya 10 YR ¾ (coklat).


Tekstur Tanah
Tekstur adalah perbandingan relatif fraksi pasir, debu dan liat yang menyusun masaa tanah. Tekstur tanah turut menentukan tata air dalam tanah, berupa kecepatan infiltrasi, penetrasi dan kemampuan pengikat air oleh tanah.
Pembatasan ketiga fraksi maisng-masing terkstur tanah dapat digambarkan dalam segitigas tekstur atau trianguler texture. Titik sudutnya menunjukkan 100 % salah satu fraksi, sedangkan tiap sisi mengambarkan % berat masing-masing fraksi mulai 0 % samapai 100 %. Segitiga ini terbagi atas 13 bidang yang menunjukkan maisng-masing terkstur tanah. Sebagai contoh 35 % liat + 40 % debu + 25 % pasir termasuk tekstur tanah lempung berliat, sedangkan 10 % liat + 5 % debu + 85 % pasir termasuk pasir berlempung.


Penentuan tekstur tanah dapat dilakukan di lapangan (secara perasaan) dan di laboratorium (metode pipet dan hydrometer). Penetapan tekstur di lapangan dilakukan dengan cara : 1) masa tanah kering atau lembab dibasahi, kemudian diprid diantara ibu jari dan telunjuk sehingga memebntuk pita lembab, sambil dirasakan adanya rasa kasar, licin dan lengket; 2) tanah tersebut dibuat bola, digulung dan diamati adanya daya tahan terhadap tekanan dan kelekatan masaa tanah sewaktu telunjuk dan ibu jari diregangkan.
Dari rasa kasar, licin, licin, pirisan, gulungan dan kelekatannya dapatlah ditentukan klas tekstur lapang.

Tabel Penetapan Klas Tekstur Tanah Menurut Perasaan di Lapang
Di samping penggolongan ke dalam tekstur tanah tersebut, untuk keperluan klasifikasi tanah tingkat famili tanah diperlukan penggolongan ke dalam kelas sebaran butir (particle size distribution) seperti : berliat sangat halus, berliat halus, berdebu halus, berdebu kasar, berlempung halus, berlempung kasar, berpasir.

Struktur Tanah
Struktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan kecil dari tanah akbiat melekatnya butir-butir tanah satu samalain. Satu unit struktur disebut ped. Apabila unit-unit struktur tersebut tidak terbentuk maka dikatakan bahwa tanah tersebut tidak berstruktur. Dalam hal ini ada dua kemungkinan yaitu : 1) Butir tunggal (single grain) = butir-butir tanah tidak melekat satu sama lain (contoh tanah pasir); 2) Pejal (massive) = buitr-butir tanah melekat satu sama lain dengan kuat sehingga tidak membentuk gumpalan-gumpalan (ped).
Penyipatan strukur tanah meliputi 3 hal yaitu bentuk, tingkat perkembangan dan ukuran.

a. Bentuk struktur
Bentuk struktur tanah dibedakan menjadi :
1. Lempeng (platy) : sumbu vertikal lebih pendek dari sumbu horisontal.
2. Prismatik (prismatic) : sumbu vertikal lebih panjang dari sumbu horisontal. Sisi atas tidak membulat.
3. Tiang (columnar) : sumbu vertikal lebih panjang dari sumbu horisontal. Sisi-sisi atas membulat.
4. Gumpal bersudut (angular blocky) : sumbu vertikal sama dengan sumbu horisontal. Sisi-sisi membentuk sudut tajam.
5. Gumpal membulat (subangular blocky) : sumbu vertikal sama dengan sumbu horisontal. Sisi-sisi membentuk sudut membulat.
6. Granuler (granular) : membulat, atau banyak sisi. Masing-masing buitr ped tidak porous.
7. Remah (crumb) : membulat atau banyak sisi, sangat porous.
b. Tingkat Perkembangan atau Kemantapan Struktur
1. Lemah : butir-butir strukutr dapat dilihat, tetapi sudah rusak dan hancur waktu diambil dari profil tanah untuk diperiksa.
2. Sedang : butir-butir struktur agak kuat dan tidak hancur waktu diambil dari profil untuk diperiksa.
3. Kuat : butir-butir struktur tidak rusak waktu diambil dari profil tanah dan tidak hancur walaupun digerak-gerakkan.
c. Ukuran Struktur
1. Untuk bentuk struktur lempeng, granuler dan remah :
- sangat halus/tipis : < 1 mm. - halus : 1-2 mm. - sedang : 2-5 mm. - kasar/tebal : 5-10 mm. - sangat kasar : > 10 mm.
2. Untuk bentuk struktur gumpal membulat dan gumpal menyudut :
- sangat halus : < 5 mm. - halus : 5-10 mm. - sedang : 10-20 mm. - kasar : 20-50 mm. - sangat kasar : > 50 mm.
3. Untuk bentuk struktur prismatik dan tiang :
- sangat halus/tipis : < 10 mm. - halus : 10-20 mm. - sedang : 20-50 mm. - kasar/tebal : 50-100 mm. - sangat kasar : > 100 mm.

Konsistensi Tanah
Konsistensi tanah adalah derajat kohesi dan adhesi di antara partikel-partikel tanah dan ketahanan massa tanah terdapat perubahan bentuk oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah. Konsistensi tanah ditentukan oleh tekstur dan struktur tanah. Pentingnya konsistensi tanah adalah untuk menentukan cara penggrapan tanah yang efisien dan penetrasi akar tanaman di lapisan tanah bawahan. Penentuan konsistensi tanah harus disesuaikan dengan kandungan air tanah yaitu dalam keadaan basah, lembab atau kering.
Tanah basah : Kandungan air di atas kapasitas lapang.

a. Kelekatan menunjukkan kekuatan adhesi (melekat) tanah dengan benda lain.

b. Plastisitas menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan.

Tanah lembab : Kandungan air mendekati kapasitas lapang.
0 – Lepas - Tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah pasir).
1 – Sangat gembur - Gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas.
2 – Gembur - Diperlukan sedikit tekanan untuk menghancurkan gumpalan tanah dengan meremas.
3 – Teguh - Berturut-turut memerlukan tekanan yang makin besar untuk menghancurkan tanah sampai sama tidak dapat hancur dengan remasan tangan.
4 – sangat teguh )
5 – Sangat teguh ) sekali

Tanah kering : Tanah dalam kedaan kering angin.
0 – Lepas - Tanah tidak melekat satu sama lain.
1 – Lunak - Gumpalan tanah mudah hancur bila diremas.
2 – Agak keras ) - Berturut-turut memerlukan tekstur yang makin besar untuk menghancurkan tanah sampai tidak dapat hancur dengan remasan kedua tangan.
3 – Keras )
4 – Sangat keras )
5 – Sangat keras ) sekali

pH Tanah
Penentuan pH tanah dalam klasifikasi dan pemetaan tanah diperlukan untuk menaksir lanjut tidaknya perkembangan tanah, respon tanah terhadap pemupukan, kebutuhan kapur dan lain-lainnya. Penentuan pH tanah dapat dikerjakan secara ekeltrometrik dan kolorimetrik. Pengukuran pH tanah di lapang biasanya digunakan cara yang sederhana yaitu dengan lakmus atau pH stick.

Padas
Padas adalah lapisan tanah yang mampat, padat dan keras terbentuk selama bagian proses pembentukan tanah atau warisan suatu daur pelapukan menjadi bahan induk tanah yang sekarang ada.
Padas dapat terbentuk karena : 1) terlalu beratnya masaa yang ada di atasnya (misalnya akibat pembajakkan yang terlalu berat atau adanya glacier), 2) pemadatan akibat cuaca yang membekukan, 3) agregasi tanah disertai perubahan temperatur, 4) karena pengikatan yang sangat erat berupa sementasi, baik oleh bahan perekat besi, bahan organik silikat ataupun liat.

Monday, 13 May 2013

Cara Menentukan Skala Peta

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita menjumpai peta yang tidak ada skalanya, padahal mungkin kita membutuhkannya. Apabila Anda mengalami kejadian ini maka cara menentukan skala peta dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Membandingkan dua jarak tempat di tempat jarak kedua tempat di lapangan
Contoh:
Jarak antara Jakarta dan Bekasi di lapangan 20 km (2.000.000 cm). Di peta jarak keduanya 50 cm. Tentukan skala petanya!
Jawab:
Skala peta tersebut = 2.000.000/50 = 40.000
Sehingga skala petanya menjadi 1 : 40.000

Membandingkan dengan peta lain yang luasnya sama dan telah diketahui skalanya
Contoh:



Menentukan dua titik di peta yang belum ada skalanya (peta x) misalnya titik A – B dengan arah Utara – Selatan
Setelah itu menghitung jarak dua titik dan selisih derajat garis lintangnya. Perlu anda ingat bahwa jarak tiap 1°garis lintang = 111 km dan 1° = 60 menit.

Contoh:
Jarak A – B di peta x = 50 cm
Selisih garis lintangnya = 30 menit
Berapa skala peta x?

Pada peta topografi/kontur maka skala peta kita hitung dengan memperhatikan interval kontur (CI – Contour Interval)
CI adalah selisih ketinggian antara dua garis kontur yang dinyatakan dalam meter. CI sering disebut jarak antara garis kontur. Garis kontur yaitu garis-garis pada peta yang menghubungkan titik-titik yang memiliki ketinggian yang sama dari permukaan air laut.
Sebuah peta topografi daerah gunung berapi diketahui memiliki jarak antar garis kontur sebesar 20 m, maka berapa skala pada peta kontur tersebut?
Penyelesaiannya:
S = 2000 x CI
S = 2000 x 20
S = 40.000
Jadi skala pada peta kontur tersebut adalah 1 : 40.000

Menghitung dari dua garis lintang
Suatu peta tidak berskala tetap mempunyai Geography Grid dapat ditentukan skalanya dengan menghitung jarak dua garis paralelnya. Seperti diketahui bahwa 1° lintang = 69 mil atau 111,04446 km.
Misalkan:
  • Jarak antara garis paralel 41°00’00” LU dengan garis paralel 41°05’00” LU = 5cm
  • Ini berarti jarak 5 cm ini sama dengan 00°05’. Sehingga jarak 1° = 12 x 5 = 60 cm (karena 5 menit = 1/12°)
  • 1° = 60 cm sama dengan 111,04 km (dibulatkan 111 km) jarak sesungguhnya adalah 11.100.000 cm
  • Karena 60 cm = 11.100.000 cm maka skala dapat dihitung yakni:
          = 60 : 11.100.000
          = 1 : 185.000
Jadi skala peta yang dicari adalah 1 : 185.000

Kerusakan Yang Ditimbulkan oleh Gempa Bumi

Intensitas goncangan gempa bumi dapat berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Secara umum goncangan tersebut menimbulkan kerusakan, antara lain:

Pelulukan

Goncangan gempa bumi yang terjadi pada lapisan batuan berbutir halus dan jenuh air, akan terjadinya pelulukan. Peristiwa ini menyebabkan permukaan tanah menjadi lumer seperti bubur.banyak gedung roboh dan jembatan patah yang diakibatkan oleh amblasnya pondasi bangunan tersebut.

Korban Jiwa

Peristiwa gempa bumi dapat mengakibatkan timbulnya korban jiwa, karena tertimpa benda jatuh, kecelakaan lalulintas, dan kepanikan massa. Besar kecilnya jumlah korban jiwa tergantung pada kekuatan gempa bumi, jarak sumber gempa bumi dengan pemukiman penduduk, konstruksi bangunan, waktu kejadian gempa bumi dan kesiapsiagaan masyarakat. Bila kekuatan gempa bumi besar, jarak episenter dekat, konstruksi bangunan tidak tahan gempa, dan terjadi pada malam hari sehingga banyak penduduk berada di dalam rumah, berpotensi untuk mengakibatkan korban jiwa lebih besar.

Retakan Tanah

Gempa bumi dapat juga menyebabkan terjadinya retakan tanah. Retakan tanah terjadi karena daya pikat antar butiran tanah tersebut sangat lemah, sehingga mudah terurai bila terkena goncangan. Jika permukaan dibangun di atas tanah rentan terjadi retakan, akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar, bahkan mengakibatkan kehancuran. Retakan tanah juga dapat mengakibatkan kerusakan sarana dan prasarana seperti jembatan patah, jalan dan jaringan telepon terputus. Apabila terdapat jaringan pipa gas dan kabel listrik, dapat mengakibatkan ledakan dan kebakaran.

Longsoran

Longsoran dapat terjadi pada sebuah daerah perbukitan dengan kemiringan sedang hingga terjal yang tersusun oleh batuan bersifat urai dan lapuk. Longsoran akibat gempa bumi dapat menimbulkan korban di permukiman yang berada di bawah tebing-tebing tersebut. Longsoran akibat gempa bumi yang menelan korban jiwa sebanyak 120 orang, pernah terjadi di Kurima (Papua) pada tanggal 12 Agustus 1989. Gempa bumi Palolo di Propinsi Sulawesi Tengah, tanggal 24 Januari 2005 mengakibatkan longsoran di Desa Sigimpuu sepanjang kurang lebih 300 meter, mengakibatkan kerusakan lahan pertanian.

Kerusakan Sarana dan Prasarana

Bangunan dan fasilitas umum dengan konstruksi tidak tahan goncangan gempa bumi akan beresiko mengalami kerusakan bila terjadi gempa bumi. Kerusakan sarana dan prasarana tersebut dapat mengganggu kehidupan masyarakat dan dapat mengakibatkan korban jiwa.

Kebakaran

Akibat lain dari kejadian gempa bumi adalah kebakaran karena kompor yang masih menyala jatuh serta jaringan pipa gas dan jaringan listrik terputus. Sebagai contoh, gempa bumi di Kobe, Jepang pada tahun 1995, menyebabkan kebakaran karena jaringan pipa gas dan jaringan listrik terputus. Kebakaran ini makin menambah jumlah korban dan harta benda. Di Indonesia, peristiwa kebakaran akibat gempa bumi terjadi di Nabire pada tanggal 6 Februari 2004, karena kompor-kompor yang masih menyala.

Thursday, 19 May 2011

Sistem Informasi Geografis

Sistem Informasi Geografi (SIG) atau Geographic Information System (GIS) adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi atau dengan kata lain suatu SIG adalah suatu sistem basis data dengan kemampuan khusus untuk menangani data yang bereferensi keruangan (spasial) bersamaan dengan seperangkat operasi kerja (Barus dan Wiradisastra, 2000). Menurut Wolfgang Kainz (1995) SIG adalah sistem yang berbasis komputer yang digunakan untuk input, penyimpanan, analisis/manipulasi dan display data spasial, untuk pemecahan problema terkait kebumian. Sedangkan menurut Rice (2000) SIG adalah system computer yang digunakan untuk memasukan, menyimpan, memeriksa, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan dan saling berhubungan dengan posisi-posisi dipermukaan bumi. Jadi bias disimpulkan bahwa GIS (Geographical Information System) atau dikenal pula dengan SIG (Sistem Informasi Geografis) merupakan sistem infomasi berbasis komputer yang menggabungkan antara unsur peta (geografis) dan informasinya tentang peta tersebut (data atribut) yang dirancang untuk mendapatkan, mengolah, memanipulasi, analisa, memperagakan dan menampilkan data spatial untuk menyelesaikan dan meneliti permasalahan.
Dibeberapa wilayah SIG memiliki nama-nama lain namun masih dalam cakupan yang sama diantaranya :
  • Geographic Information System (USA)
  • Geographical Information System (Eropa)
  • Geomatique (Kanada)
  • Georational Information System
  • Natural Recourse Information System
  • Geoscience or Geological Information System
  • Spatial Information System
  • Spatial Data Analysis System
Sistem Informasi Geografis dibagi menjadi dua kelompok yaitu sistem manual (analog), dan sistem otomatis (yang berbasis digital komputer). Perbedaan yang paling mendasar terletak pada cara pengelolaannya. Sistem Informasi manual biasanya menggabungkan beberapa data seperti peta, lembar transparansi untuk tumpang susun (overlay), foto udara, laporan statistik dan laporan survey lapangan. Kesemua data tersebut dikompilasi dan dianalisis secara manual dengan alat tanpa komputer. Sedangkan Sistem Informasi Geografis otomatis telah menggunakan komputer sebagai sistem pengolah data melalui proses digitasi. Sumber data digital dapat berupa citra satelit atau foto udara digital serta foto udara yang terdigitasi. Data lain dapat berupa peta dasar terdigitasi (Nurshanti, 1995).
Komponen utama Sistem Informasi Geografis dapat dibagi kedalam 4 komponen utama yaitu: perangkat keras (digitizer, scanner, Central Procesing Unit (CPU), hard-disk, dan lain-lain), perangkat lunak (ArcView, Idrisi, ARC/INFO, ILWIS, MapInfo, dan lain-lain), organisasi (manajemen) dan pemakai (user). Kombinasi yang benar antara keempat komponen utama ini akan menentukan kesuksesan suatu proyek pengembangan Sistem Informasi Geografis.
Tujuan pokok dari pemanfaatan Sistem Informasi Geografis adalah untuk mempermudah mendapatkan informasi yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau obyek. Ciri utama data yang bisa dimanfaatkan dalam Sistem Informasi Geografis adalah data yang telah terikat dengan lokasi dan merupakan data dasar yang belum dispesifikasi (Dulbahri, 1993).
Tahapan kerja atau subsistem SIG yang terdiri dari input, manajemen data, manipulasi data dan analisis, dan output.
Data input disini berisi data berupa table, laporan, pengukuran lapangan, peta (tematik, topografi, dll), citra satelit, foto udara, data digital lain, dan data lainnya. Kemudian data input ini dimasukan ke database untuk diproses sehingga bias menampikan data baru dan data output. Hasil akhirnya data output akan menampilkan seluruh atau sebagian dari basis data baik hardcopy maupun softcopy yang berupa peta, table, laporan, dan informasi digital (softcopy). Lukman (1993) menyatakan bahwa sistem informasi geografi menyajikan informasi keruangan beserta atributnya yang terdiri dari beberapa komponen utama yaitu:
  • Masukan data merupakan proses pemasukan data pada komputer dari peta (peta topografi dan peta tematik), data statistik, data hasil analisis penginderaan jauh data hasil pengolahan citra digital penginderaan jauh, dan lain-lain. Data-data spasial dan atribut baik dalam bentuk analog maupun data digital tersebut dikonversikan kedalam format yang diminta oleh perangkat lunak sehingga terbentuk basisdata (database). Menurut Anon (2003) basisdata adalah pengorganisasian data yang tidak berlebihan dalam komputer sehingga dapat dilakukan pengembangan, pembaharuan, pemanggilan, dan dapat digunakan secara bersama oleh pengguna.
  • Penyimpanan data dan pemanggilan kembali (data storage dan retrieval) ialah penyimpanan data pada komputer dan pemanggilan kembali dengan cepat (penampilan pada layar monitor dan dapat ditampilkan/cetak pada kertas).
  • Manipulasi data dan analisis ialah kegiatan yang dapat dilakukan berbagai macam perintah misalnya overlay antara dua tema peta, membuat buffer zone jarak tertentu dari suatu area atau titik dan sebagainya. Anon (2003) mengatakan bahwa manipulasi dan analisis data merupakan ciri utama dari SIG. Kemampuan SIG dalam melakukan analisis gabungan dari data spasial dan data atribut akan menghasilkan informasi yang berguna untuk berbagai aplikasi
  • Pelaporan data ialah dapat menyajikan data dasar, data hasil pengolahan data dari model menjadi bentuk peta atau data tabular. Menurut Barus dan wiradisastra (2000) Bentuk produk suatu SIG dapat bervariasi baik dalam hal kualitas, keakuratan dan kemudahan pemakainya. Hasil ini dapat dibuat dalam bentuk peta-peta, tabel angka-angka: teks di atas kertas atau media lain (hard copy), atau dalam cetak lunak (seperti file elektronik).
Data-data yang diolah dalam SIG pada dasarnya terdiri dari data spasial dan data atribut dalam bentuk digital, dengan demikian analisis yang dapat digunakan adalah analisis spasial dan analisis atribut. Data spasial merupakan data yang berkaitan dengan lokasi keruangan yang umumnya berbentuk peta. Sedangkan data atribut merupakan data tabel yang berfungsi menjelaskan keberadaan berbagai objek sebagai data spasial.
Penyajian data spasial mempunyai tiga cara dasar yaitu dalam bentuk titik, bentuk garis dan bentuk area (polygon). Titik merupakan kenampakan tunggal dari sepasang koordinat x,y yang menunjukkan lokasi suatu obyek berupa ketinggian, lokasi kota, lokasi pengambilan sample dan lain-lain. Garis merupakan sekumpulan titik-titik yang membentuk suatu kenampakan memanjang seperti sungai, jalan, kontus dan lain-lain. Sedangkan area adalah kenampakan yang dibatasi oleh suatu garis yang membentuk suatu ruang homogen, misalnya: batas daerah, batas penggunaan lahan, pulau dan lain sebagainya.
Struktur data spasial dibagi dua yaitu model data raster dan model data vektor. Data raster adalah data yang disimpan dalam bentuk kotak segi empat (grid)/sel sehingga terbentuk suatu ruang yang teratur. Data vektor adalah data yang direkam dalam bentuk koordinat titik yang menampilkan, menempatkan dan menyimpan data spasial dengan menggunakan titik, garis atau area (polygon) (Barus dan Wiradisastra, 2000).
SIG memiliki banyak keunggulan diantaranya yaitu :
  • Penyimpanan data base digital baku dan terpadu
  • Pemanggilan kembali pencarian dengan komputer
  • Pemutakhiran sistematis
  • Analisis overlay sangat cepat
  • Analisis spasial mudah
  • Penayangan murah dan cepat
Karena memiliki banyak sekali keunggulan, SIG sering dipakai untuk menganalisis suatu masalah atau untuk menemukan informasi baru. Berikut beberapa bidang yang sering mengunakan pemanfaatan SIG :
  • Pendidikan
  • Transportasi dan Perhubungan
  • Telekomunikasi
  • Ekonomi, Bisnis, dan Marketing
  • Militer
  • Geologi, Pertambangan, dan Perminyakan
  • Lingkungan
  • Perpajakan
  • Perencanaan Wilayah
  • Sumber Daya Alam
  • Kesehatan
  • Hidrografi dan Kelautan
  • Utilitas

Wednesday, 3 November 2010

Gempa Bumi

Mengapa di Indonesia sering terjadi gempabumi?
Indonesia secara geologis terletak pada pertemuan tiga lempeng litosfer yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Indoaustralia. Tataan geologis ini memiliki pengaruh yang menguntungkan maupun merugikan bagi Indonesia. Pengaruh menguntungkan antara lain di bumi Indonesia kaya akan sumber bahan tambang, memiliki tanah yang subur, serta pesona alam yang indah. Sedangkan pengaruh yang merugikan, wilayah Indonesia memiliki ancaman bahaya gempabumi.

Bagaimana terjadinya gempabumi?
Gempabumi adalah gerakan atau gerakan pada kerak bumi sebagai akibat aktifitas tektonisme, vulkanisme atau runtuhan bagian bumi secara lokal. Berdasarkan penyebabnya, gempabumi dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu gempabumi tektonik, gempabumi vulkanik, dan gempabumi runtuhan. Gempabumi tektonik terjadi karena persinggungan lempeng-lempeng litosfer, gempabumi vulkanik terjadi karena adanya aktifitas gunungapi. Sedangkan gempabumi runtuhan terjadi karena runtuhnya atap gua. Permukaan bumi kita ini terbagi atas lempeng-lempeng litosfer. Tiga di antaranya sudah kita temukan diatas, yaitu lempeng Indoaustralia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Lempeng-lempeng tersebut bebas bergerak secara perlahan di atas lapisan astenosfer yaitu lapisan selubung atas bumi yang lebih panas dan lunak yang dapat mengalir seperti pasta kental. Gerakan lempeng-lempeng litosfer ada yang saling menjauh, saling bertumbukan dan saling berpapasan mendatar. Ketiga jenis gerakan tersebut dapat menimbulkan tekanan, tarikan, dan gesekan. Pada saat batas kelenturan batuan terlampaui, maka akan terjadi patahan kulit bumi yang disertai lepasnya energi secara tiba-tiba. Peristiwa tersebut menimbulkan gempabumi.

Daerah manakah di Indonesia yang rawan gempabumi?
Pada dasarnya sebaran gempabumi terdapat di hamper seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Tersebar dari Nanggroe Aceh Darussalm hiingga Papua. Hanya di pulau Kalimantan sumber gempabumi tidak itemukan, karena relatif jauh dari pertemuan lempeng-lempeng litosfer.
Sumber gempabumi dapat dijumpai di darat dan di bawah dasar laut. Jalur gempabumi akibat patahan di darat terletak sajajar dengan jalur gempabumi di dasar laut. Jalur gempabumi di darat melalui Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali, Kepulauan Nusa Tenggara, Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Pulau Papua. Sedangkan jalur gempabumi di dasar laut terletak di sebelah barat Pulau Sumatera, selatan Pulau jawa, selatan Pulau Bali dan Nusa Tenggara, selatan Kepulauan Maluku, dan sebelah utara Pulau Papua.
Provinsi yang rawan bencana gempa bumi di Indonesia antara lain :
  • Nanggroe Aceh Darussalam
  • Sumatera Utara
  • Sumatera Barat
  • Bengkulu
  • Lampung
  • Banten
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • D.I. Yogyakarta
  • Jawa Timur
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggra Timur
  • Sulawesi Utara
  • Gorontalo
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Tenggara
  • Maluku
  • Maluku Utara
  • Papua
  • Papua Barat
  • Papua Tengah
Gempabumi di Nanggroe Aceh Darussalam berkekuatan 9 pada skala richter, apa artinya?Kekuatan gempabumi dapat bervariasi dari sangat kecil yang tidak dapat kita rasakan sampai dengan skala besar yang merusak. Kekuatan gempabumi tersebut dicatat dengan alat pencatat gempabumi yang disebut seismograf. Sebuah seismograf terdiri dari ua bagian utama yaitu sensor atau seismometer dan alat perekam gempa. Hasil catatab seismograf isebut seismogram. Hasil seismograf dapat digunakan untuk menghitung kekuatan gempabumi, menentukan pusat gempa yaitu episenter dan hiposenter.
Ukuran kekuatan gempabumi yang sudah dikenal secara umum dinyatakan dalam skala Ricther, diperkenalkan oleh Charles F. Richter pada tahun 1934. Perhitungannya didasarkan pada amplitude terbesar gelombang gempabumi yang tercatat pada seismogram. Skala Richter inyatakan dalam basis bilangan logaritma. Oleh karena itu, satu tahap kenaikan dalam skal Richter berarti peningkatan gempabumi sepuluh kali lipat. Sebagai contoh, gempabumi dengan kekuatan 9 pada skala Richter mempunyai kekuatan sepuluh kali lebih kuat dibandingkan dengan gempabumi yang berkekuatan 8 skala Richter.

Tabel Kekuatan gempabumi dalam skala Richter :
Penamaan
Skala Richter
Dampak Gempabumi
Jumlah Kejadian
Mikro
< 2,0
Gempabumi mikro, tak terasa
8.000 per hari
Sangat Minor
2,0 – 2,9
Umumnya tak terasa, tapi tercatat oleh peralatan
1.000 per hari
Minor
3,0 – 3,9
Umumnya terasa, jarang mengakibatkan kerusakan
49.000 per tahun
Lemah
4,0 – 4,9
Teramati di dalam rumah, ada suara berderik, tidak ada kerusakan
6.200 per tahun
Sedang
5,0 – 5,9
Kerusakan pada bangunan dengan konstruksi buruk pada daerah yang tidak luas. Bangunan dengan konstruksi baik, rusak sedikit
800 per tahun
Kuat
6,0 – 6,9
Dapat mengakibatkan kerusakan pada daerah padat penduduk sepanjang 150 km²
120 per tahun
Sangat Kuat
7,0 – 7,9
Kerusakan pada daerah lebih dari 150 km
18 per tahun
Besar
8,0 – 8,9
Kerusakan pada daerah lebih dari beberapa ratus km
1 per tahun
Besar dan Langka
> 9,0

1 per 20 tahun
(Sumber:  United States Geological Survey, 2005)


Tabel Kesetaraan kekuatan gempabumi dengan kekuatan sejumlah bahan peledak :
Skala Ricther
Setara dengan berat bahan peledak
Contoh
- 1,5
3 kg
Granat
1,0
15 kg
Ledakan pada konstruksi
1,5
160 kg
Bom konvensional Perang Dunia II
2,0
1 ton
Bom konvensional Perang Dunia II
2,5
4,6 ton
Bom rakitan Perang Dunia II
3,0
29 ton
Ledakan MOAB, tahun 2003
3,5
73 ton
Kecelakaan Chelyabinsk, 1957
4,0
1 kiloton
Bom atom kecil
4,5
5 kiloton
Rata-rata Tornado (energi total)
5,0
32 kiloton
Bom Nagasaki
5,5
80 kiloton
Gempabumi Little Skull, Amerika Serikat, 1992
6,0
1 megaton
Gempabumi Double Spring Flat, Amerika Serikat, 1994
6,5
5 megaton
Gempabumi Northridge, 1994
7,0
32 megaton
Senjata termonuklir terbesar
7,5
160 megaton
Gempabumi Landers, Amerika Serikat, 1992
8,0
1 gigaton
Gempabumi San Francisco, Amerika serikat, 1906
8,5
5 gigaton
Gempabumi Anchorage, Amerika Serikat, 1964
9,0
32 gigaton
Gempabumi Nanggroe Aceh Darissalam-Sumut, Indonesia, 2004
(Sumber: United States Geological Survey, 2005)