Thursday, 19 May 2011

Sistem Informasi Geografis

Sistem Informasi Geografi (SIG) atau Geographic Information System (GIS) adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi atau dengan kata lain suatu SIG adalah suatu sistem basis data dengan kemampuan khusus untuk menangani data yang bereferensi keruangan (spasial) bersamaan dengan seperangkat operasi kerja (Barus dan Wiradisastra, 2000). Menurut Wolfgang Kainz (1995) SIG adalah sistem yang berbasis komputer yang digunakan untuk input, penyimpanan, analisis/manipulasi dan display data spasial, untuk pemecahan problema terkait kebumian. Sedangkan menurut Rice (2000) SIG adalah system computer yang digunakan untuk memasukan, menyimpan, memeriksa, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan dan saling berhubungan dengan posisi-posisi dipermukaan bumi. Jadi bias disimpulkan bahwa GIS (Geographical Information System) atau dikenal pula dengan SIG (Sistem Informasi Geografis) merupakan sistem infomasi berbasis komputer yang menggabungkan antara unsur peta (geografis) dan informasinya tentang peta tersebut (data atribut) yang dirancang untuk mendapatkan, mengolah, memanipulasi, analisa, memperagakan dan menampilkan data spatial untuk menyelesaikan dan meneliti permasalahan.
Dibeberapa wilayah SIG memiliki nama-nama lain namun masih dalam cakupan yang sama diantaranya :
  • Geographic Information System (USA)
  • Geographical Information System (Eropa)
  • Geomatique (Kanada)
  • Georational Information System
  • Natural Recourse Information System
  • Geoscience or Geological Information System
  • Spatial Information System
  • Spatial Data Analysis System
Sistem Informasi Geografis dibagi menjadi dua kelompok yaitu sistem manual (analog), dan sistem otomatis (yang berbasis digital komputer). Perbedaan yang paling mendasar terletak pada cara pengelolaannya. Sistem Informasi manual biasanya menggabungkan beberapa data seperti peta, lembar transparansi untuk tumpang susun (overlay), foto udara, laporan statistik dan laporan survey lapangan. Kesemua data tersebut dikompilasi dan dianalisis secara manual dengan alat tanpa komputer. Sedangkan Sistem Informasi Geografis otomatis telah menggunakan komputer sebagai sistem pengolah data melalui proses digitasi. Sumber data digital dapat berupa citra satelit atau foto udara digital serta foto udara yang terdigitasi. Data lain dapat berupa peta dasar terdigitasi (Nurshanti, 1995).
Komponen utama Sistem Informasi Geografis dapat dibagi kedalam 4 komponen utama yaitu: perangkat keras (digitizer, scanner, Central Procesing Unit (CPU), hard-disk, dan lain-lain), perangkat lunak (ArcView, Idrisi, ARC/INFO, ILWIS, MapInfo, dan lain-lain), organisasi (manajemen) dan pemakai (user). Kombinasi yang benar antara keempat komponen utama ini akan menentukan kesuksesan suatu proyek pengembangan Sistem Informasi Geografis.
Tujuan pokok dari pemanfaatan Sistem Informasi Geografis adalah untuk mempermudah mendapatkan informasi yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau obyek. Ciri utama data yang bisa dimanfaatkan dalam Sistem Informasi Geografis adalah data yang telah terikat dengan lokasi dan merupakan data dasar yang belum dispesifikasi (Dulbahri, 1993).
Tahapan kerja atau subsistem SIG yang terdiri dari input, manajemen data, manipulasi data dan analisis, dan output.
Data input disini berisi data berupa table, laporan, pengukuran lapangan, peta (tematik, topografi, dll), citra satelit, foto udara, data digital lain, dan data lainnya. Kemudian data input ini dimasukan ke database untuk diproses sehingga bias menampikan data baru dan data output. Hasil akhirnya data output akan menampilkan seluruh atau sebagian dari basis data baik hardcopy maupun softcopy yang berupa peta, table, laporan, dan informasi digital (softcopy). Lukman (1993) menyatakan bahwa sistem informasi geografi menyajikan informasi keruangan beserta atributnya yang terdiri dari beberapa komponen utama yaitu:
  • Masukan data merupakan proses pemasukan data pada komputer dari peta (peta topografi dan peta tematik), data statistik, data hasil analisis penginderaan jauh data hasil pengolahan citra digital penginderaan jauh, dan lain-lain. Data-data spasial dan atribut baik dalam bentuk analog maupun data digital tersebut dikonversikan kedalam format yang diminta oleh perangkat lunak sehingga terbentuk basisdata (database). Menurut Anon (2003) basisdata adalah pengorganisasian data yang tidak berlebihan dalam komputer sehingga dapat dilakukan pengembangan, pembaharuan, pemanggilan, dan dapat digunakan secara bersama oleh pengguna.
  • Penyimpanan data dan pemanggilan kembali (data storage dan retrieval) ialah penyimpanan data pada komputer dan pemanggilan kembali dengan cepat (penampilan pada layar monitor dan dapat ditampilkan/cetak pada kertas).
  • Manipulasi data dan analisis ialah kegiatan yang dapat dilakukan berbagai macam perintah misalnya overlay antara dua tema peta, membuat buffer zone jarak tertentu dari suatu area atau titik dan sebagainya. Anon (2003) mengatakan bahwa manipulasi dan analisis data merupakan ciri utama dari SIG. Kemampuan SIG dalam melakukan analisis gabungan dari data spasial dan data atribut akan menghasilkan informasi yang berguna untuk berbagai aplikasi
  • Pelaporan data ialah dapat menyajikan data dasar, data hasil pengolahan data dari model menjadi bentuk peta atau data tabular. Menurut Barus dan wiradisastra (2000) Bentuk produk suatu SIG dapat bervariasi baik dalam hal kualitas, keakuratan dan kemudahan pemakainya. Hasil ini dapat dibuat dalam bentuk peta-peta, tabel angka-angka: teks di atas kertas atau media lain (hard copy), atau dalam cetak lunak (seperti file elektronik).
Data-data yang diolah dalam SIG pada dasarnya terdiri dari data spasial dan data atribut dalam bentuk digital, dengan demikian analisis yang dapat digunakan adalah analisis spasial dan analisis atribut. Data spasial merupakan data yang berkaitan dengan lokasi keruangan yang umumnya berbentuk peta. Sedangkan data atribut merupakan data tabel yang berfungsi menjelaskan keberadaan berbagai objek sebagai data spasial.
Penyajian data spasial mempunyai tiga cara dasar yaitu dalam bentuk titik, bentuk garis dan bentuk area (polygon). Titik merupakan kenampakan tunggal dari sepasang koordinat x,y yang menunjukkan lokasi suatu obyek berupa ketinggian, lokasi kota, lokasi pengambilan sample dan lain-lain. Garis merupakan sekumpulan titik-titik yang membentuk suatu kenampakan memanjang seperti sungai, jalan, kontus dan lain-lain. Sedangkan area adalah kenampakan yang dibatasi oleh suatu garis yang membentuk suatu ruang homogen, misalnya: batas daerah, batas penggunaan lahan, pulau dan lain sebagainya.
Struktur data spasial dibagi dua yaitu model data raster dan model data vektor. Data raster adalah data yang disimpan dalam bentuk kotak segi empat (grid)/sel sehingga terbentuk suatu ruang yang teratur. Data vektor adalah data yang direkam dalam bentuk koordinat titik yang menampilkan, menempatkan dan menyimpan data spasial dengan menggunakan titik, garis atau area (polygon) (Barus dan Wiradisastra, 2000).
SIG memiliki banyak keunggulan diantaranya yaitu :
  • Penyimpanan data base digital baku dan terpadu
  • Pemanggilan kembali pencarian dengan komputer
  • Pemutakhiran sistematis
  • Analisis overlay sangat cepat
  • Analisis spasial mudah
  • Penayangan murah dan cepat
Karena memiliki banyak sekali keunggulan, SIG sering dipakai untuk menganalisis suatu masalah atau untuk menemukan informasi baru. Berikut beberapa bidang yang sering mengunakan pemanfaatan SIG :
  • Pendidikan
  • Transportasi dan Perhubungan
  • Telekomunikasi
  • Ekonomi, Bisnis, dan Marketing
  • Militer
  • Geologi, Pertambangan, dan Perminyakan
  • Lingkungan
  • Perpajakan
  • Perencanaan Wilayah
  • Sumber Daya Alam
  • Kesehatan
  • Hidrografi dan Kelautan
  • Utilitas

Wednesday, 3 November 2010

Gempa Bumi

Mengapa di Indonesia sering terjadi gempabumi?
Indonesia secara geologis terletak pada pertemuan tiga lempeng litosfer yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Indoaustralia. Tataan geologis ini memiliki pengaruh yang menguntungkan maupun merugikan bagi Indonesia. Pengaruh menguntungkan antara lain di bumi Indonesia kaya akan sumber bahan tambang, memiliki tanah yang subur, serta pesona alam yang indah. Sedangkan pengaruh yang merugikan, wilayah Indonesia memiliki ancaman bahaya gempabumi.

Bagaimana terjadinya gempabumi?
Gempabumi adalah gerakan atau gerakan pada kerak bumi sebagai akibat aktifitas tektonisme, vulkanisme atau runtuhan bagian bumi secara lokal. Berdasarkan penyebabnya, gempabumi dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu gempabumi tektonik, gempabumi vulkanik, dan gempabumi runtuhan. Gempabumi tektonik terjadi karena persinggungan lempeng-lempeng litosfer, gempabumi vulkanik terjadi karena adanya aktifitas gunungapi. Sedangkan gempabumi runtuhan terjadi karena runtuhnya atap gua. Permukaan bumi kita ini terbagi atas lempeng-lempeng litosfer. Tiga di antaranya sudah kita temukan diatas, yaitu lempeng Indoaustralia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Lempeng-lempeng tersebut bebas bergerak secara perlahan di atas lapisan astenosfer yaitu lapisan selubung atas bumi yang lebih panas dan lunak yang dapat mengalir seperti pasta kental. Gerakan lempeng-lempeng litosfer ada yang saling menjauh, saling bertumbukan dan saling berpapasan mendatar. Ketiga jenis gerakan tersebut dapat menimbulkan tekanan, tarikan, dan gesekan. Pada saat batas kelenturan batuan terlampaui, maka akan terjadi patahan kulit bumi yang disertai lepasnya energi secara tiba-tiba. Peristiwa tersebut menimbulkan gempabumi.

Daerah manakah di Indonesia yang rawan gempabumi?
Pada dasarnya sebaran gempabumi terdapat di hamper seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Tersebar dari Nanggroe Aceh Darussalm hiingga Papua. Hanya di pulau Kalimantan sumber gempabumi tidak itemukan, karena relatif jauh dari pertemuan lempeng-lempeng litosfer.
Sumber gempabumi dapat dijumpai di darat dan di bawah dasar laut. Jalur gempabumi akibat patahan di darat terletak sajajar dengan jalur gempabumi di dasar laut. Jalur gempabumi di darat melalui Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali, Kepulauan Nusa Tenggara, Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Pulau Papua. Sedangkan jalur gempabumi di dasar laut terletak di sebelah barat Pulau Sumatera, selatan Pulau jawa, selatan Pulau Bali dan Nusa Tenggara, selatan Kepulauan Maluku, dan sebelah utara Pulau Papua.
Provinsi yang rawan bencana gempa bumi di Indonesia antara lain :
  • Nanggroe Aceh Darussalam
  • Sumatera Utara
  • Sumatera Barat
  • Bengkulu
  • Lampung
  • Banten
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • D.I. Yogyakarta
  • Jawa Timur
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggra Timur
  • Sulawesi Utara
  • Gorontalo
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Tenggara
  • Maluku
  • Maluku Utara
  • Papua
  • Papua Barat
  • Papua Tengah
Gempabumi di Nanggroe Aceh Darussalam berkekuatan 9 pada skala richter, apa artinya?Kekuatan gempabumi dapat bervariasi dari sangat kecil yang tidak dapat kita rasakan sampai dengan skala besar yang merusak. Kekuatan gempabumi tersebut dicatat dengan alat pencatat gempabumi yang disebut seismograf. Sebuah seismograf terdiri dari ua bagian utama yaitu sensor atau seismometer dan alat perekam gempa. Hasil catatab seismograf isebut seismogram. Hasil seismograf dapat digunakan untuk menghitung kekuatan gempabumi, menentukan pusat gempa yaitu episenter dan hiposenter.
Ukuran kekuatan gempabumi yang sudah dikenal secara umum dinyatakan dalam skala Ricther, diperkenalkan oleh Charles F. Richter pada tahun 1934. Perhitungannya didasarkan pada amplitude terbesar gelombang gempabumi yang tercatat pada seismogram. Skala Richter inyatakan dalam basis bilangan logaritma. Oleh karena itu, satu tahap kenaikan dalam skal Richter berarti peningkatan gempabumi sepuluh kali lipat. Sebagai contoh, gempabumi dengan kekuatan 9 pada skala Richter mempunyai kekuatan sepuluh kali lebih kuat dibandingkan dengan gempabumi yang berkekuatan 8 skala Richter.

Tabel Kekuatan gempabumi dalam skala Richter :
Penamaan
Skala Richter
Dampak Gempabumi
Jumlah Kejadian
Mikro
< 2,0
Gempabumi mikro, tak terasa
8.000 per hari
Sangat Minor
2,0 – 2,9
Umumnya tak terasa, tapi tercatat oleh peralatan
1.000 per hari
Minor
3,0 – 3,9
Umumnya terasa, jarang mengakibatkan kerusakan
49.000 per tahun
Lemah
4,0 – 4,9
Teramati di dalam rumah, ada suara berderik, tidak ada kerusakan
6.200 per tahun
Sedang
5,0 – 5,9
Kerusakan pada bangunan dengan konstruksi buruk pada daerah yang tidak luas. Bangunan dengan konstruksi baik, rusak sedikit
800 per tahun
Kuat
6,0 – 6,9
Dapat mengakibatkan kerusakan pada daerah padat penduduk sepanjang 150 km²
120 per tahun
Sangat Kuat
7,0 – 7,9
Kerusakan pada daerah lebih dari 150 km
18 per tahun
Besar
8,0 – 8,9
Kerusakan pada daerah lebih dari beberapa ratus km
1 per tahun
Besar dan Langka
> 9,0

1 per 20 tahun
(Sumber:  United States Geological Survey, 2005)


Tabel Kesetaraan kekuatan gempabumi dengan kekuatan sejumlah bahan peledak :
Skala Ricther
Setara dengan berat bahan peledak
Contoh
- 1,5
3 kg
Granat
1,0
15 kg
Ledakan pada konstruksi
1,5
160 kg
Bom konvensional Perang Dunia II
2,0
1 ton
Bom konvensional Perang Dunia II
2,5
4,6 ton
Bom rakitan Perang Dunia II
3,0
29 ton
Ledakan MOAB, tahun 2003
3,5
73 ton
Kecelakaan Chelyabinsk, 1957
4,0
1 kiloton
Bom atom kecil
4,5
5 kiloton
Rata-rata Tornado (energi total)
5,0
32 kiloton
Bom Nagasaki
5,5
80 kiloton
Gempabumi Little Skull, Amerika Serikat, 1992
6,0
1 megaton
Gempabumi Double Spring Flat, Amerika Serikat, 1994
6,5
5 megaton
Gempabumi Northridge, 1994
7,0
32 megaton
Senjata termonuklir terbesar
7,5
160 megaton
Gempabumi Landers, Amerika Serikat, 1992
8,0
1 gigaton
Gempabumi San Francisco, Amerika serikat, 1906
8,5
5 gigaton
Gempabumi Anchorage, Amerika Serikat, 1964
9,0
32 gigaton
Gempabumi Nanggroe Aceh Darissalam-Sumut, Indonesia, 2004
(Sumber: United States Geological Survey, 2005)